{"id":736,"date":"2016-04-20T20:40:11","date_gmt":"2016-04-20T13:40:11","guid":{"rendered":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/?p=736"},"modified":"2016-04-20T20:40:11","modified_gmt":"2016-04-20T13:40:11","slug":"akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/","title":{"rendered":"Akankah Asia Pulp &#038; Paper mengingkari komitmen \u201czero deforestation\u201d?"},"content":{"rendered":"<p>Laporan Terkait\u00a0komitmen \u201czero deforestation\u201d Asia Pulp and Paper<\/p>\n<p>Pada tanggal 5 Februari 2013, Asia Pulp &amp; Paper (APP) mengumumkan \u201cpenghentian pembukaan hutan\u00a0alam di seluruh rantai pasokannya di Indonesia.\u201d Janji \u201czero deforestasi\u201d perusahaan serta komitmen\u00a0keberlanjutan lainnya seolah menandai perubahan signifikan kebiasaan APP selama dua dasawarsa\u00a0sebelumnya. Sejak membangun dua pabrik pulp besar di Sumatera di pertengahan tahun 1990-an,\u00a0produsen pulp dan kertas yang terkemuka di Indonesia tersebut dan anak perusahaannya sangat\u00a0mengandalkan kayu rimba campuran (mixed tropical hardwood atau MTH) yang berasal dari kegiatan\u00a0pembukaan hutan alam.<\/p>\n<p>APP dan konglomerasi induknya, Grup Sinar Mas, dikritik karena merusak\u00a0ekosistem hutan dan habitat penting bagi spesies yang terancam punah seperti Harimau Sumatera,menyingkirkan masyarakat lokal dari tanah adatnya, dan turut menyebabkan pemanasan global karena\u00a0mengembangkan hutan tanaman di atas lahan gambut berkarbon tinggi.<\/p>\n<p>Lima bulan setelah pengumuman komitmen keberlanjutannya, pada bulan Juli 2013, APP mengumumkan\u00a0rencana pembangunan pabrik pulp ketiganya, yang berskala raksasa di Indonesia. Dengan pinjaman sebesar\u00a0$2,5 miliar dari bank milik negara Tiongkok. Proyek PT OKI Pulp &amp; Paper Mills tersebut di Sumatera Selatan\u00a0akan meningkatkan kebutuhan bahan baku kayu APP secara keseluruhan sebesar lebih dari 50% jika, seperti\u00a0telah diindikasikan perusahaan, kapasitas produksi pulp di pabrik akan sebesar 2,0 juta ton\/tahun.<\/p>\n<p>Namun,\u00a0Direktur OKI baru-baru ini menyatakan bahwa APP merencanakan peningkatan kapasitas pabrik sampai 2,8\u00a0juta ton\/tahun, sementara berita di industri pulp melaporkan bahwa peralatan yang dipesan untuk pabrik\u00a0OKI dapat diupgrade sehingga memungkinkan produksi sebesar 3,2 juta ton\/tahun. Kapasitas produksi yang\u00a0lebih tinggi ini sesuai dengan pemberitaan diberbagai media massa yang menyatakan bahwa pabrik OKI\u00a0akan menjadi salah satu pabrik pulp terbesar di dunia. Apabila kapasitas mencapai 2,8 juta ton\/tahun, maka<br \/>\nkebutuhan bahan baku kayu grup akan meningkat sebesar hampir 75%; dan jika kapasitas akhirnya mencapai\u00a03,2 juta ton\/tahun, kebutuhannya akan meningkat sebesar 85% sampai hampir 33 juta meter kubik (m 3 ).<\/p>\n<p>Mengingat komitmen APP yang hanya akan menggunakan serat kayu yang berasal dari hutan tanaman,\u00a0maka banyak pemangku kepentingan sekarang akan bertanya: Akankah hutan tanaman milik grup mampu\u00a0menghasilkan kayu dalam volume yang cukup untuk memenuhi kebutuhan ketiga pabrik pulp di Sumatera\u00a0ketika pabrik OKI sudah mulai produksi? Dan jika ternyata hutan tanaman Sinar Mas\/APP tidak mampu\u00a0menghasilkan kayu dalam volume yang cukup, akankah grup tersebut kembali melakukan pembukaan\u00a0hutan alam?<\/p>\n<p>Laporan ini mengulas tentang konsesi Sinar Mas\/APP di Sumatera Selatan dan apakah luas areal tanam\u00a0yang sudah dikembangkan cukup untuk menghasilkan volume serat kayu yang akan dibutuhkan pabrik\u00a0OKI pada kapasitas produksi pulp sebesar 2,0 juta, 2,8 juta, dan 3,2 juta ton\/tahun.<\/p>\n<p>Berdasarkan luas areal\u00a0tanam yang dilaporkan APP pada tahun 2015, analisis dalam kajian ini menemukan kekurangan luas areal\u00a0konsesi milik grup di Sumatera Selatan setidaknya sebesar 59.000 hektar lebih kecil dari luas areal hutan\u00a0tanaman yang diperlukan untuk menghasilkan volume serat kayu yang akan dikonsumsi OKI, bahkan\u00a0pada skenario dengan laju pertumbuhan tinggi dan dengan kapasitas pulp sebesar 2,0 juta ton\/tahun\u00a0pun.<\/p>\n<p>Kekurangan ini diproyeksikan menjadi jauh lebih besar di bawah jika menggunakan skenario dengan\u00a0laju pertumbuhan sedang atau rendah di hutan tanaman, dan\/atau jika kapasitas pulp OKI ditingkatkan\u00a0menjadi 2,8 juta atau 3,2 juta ton\/tahun. Setelah bencana kebakaran tahun 2015 \u2013 di mana areal hutan\u00a0tanaman Akasia yang diperkirakan seluas 86.000 di dalam konsesi Sinar Mas\/APP ikut terbakar \u2013 defisit\u00a0ini jauh lebih besar sekarang, bahkan dari satu tahun yang lalu.<\/p>\n<p>Untuk grup usaha secara keseluruhan, hasil analisis mengindikasikan juga menemukan bahwa areal tanam\u00a0APP yang sudah dikembangkan di seluruh Indonesia sampai saat ini tidak akan memadai untuk memenuhi\u00a0kebutuhan serat kayu untuk kedua pabrik grup yang sudah ada serta untuk pabrik OKI.<\/p>\n<p>Bahkan dalam\u00a0skenario dengan laju pertumbuhan tinggi, dan asumsi kapasitas pulp di pabrik OKI sebesar 2,0 juta ton\/tahun, proyeksi menunjukkan bahwa APP akan dihadapkan dengan kekurangan bahan baku tahunan\u00a0setidaknya sebesar 3 juta m 3 . Kekurangan yang terjadi setiap tahun ini diproyeksikan meningkat sampai\u00a0lebih dari 11 juta m 3 di jika menggunakan bawah skenario dengan laju pertumbuhan sedang dan\/atau\u00a0apabila kapasitas produksi pulp pabrik OKI meningkat sampai 2,8 juta atau 3,2 juta ton\/tahun.<\/p>\n<p>Dalam\u00a0skenario dengan laju pertumbuhan rendah, kekurangan akan jauh lebih besar lagi. \u00a0\u00a0Terlepas dari pernyataannya mengenai transparansi pada tingkat yang \u201cbelum pernah ada sebelumnya,\u201d\u00a0APP tetap tidak mengumumkan secara detil mengenai pasokan kayunya di masa yang akan datang.<\/p>\n<p>Perusahaan hanya memberikanjanji bahwa para pemasoknya akan mampu menghasilkan volume\u00a0kayu hutan tanaman yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang grup akan bahan baku\u00a0serat kayu, dan mempertahankan komitmen keberlanjutan mereka. Untuk mendukung klaim ini, APP\u00a0mengacu pada kajian terhadap pertumbuhan dan hasil panen yang dilakukan oleh The Forest Trust\u00a0bersama konsultansi kehutanan Ata Marie yang dibiayai oleh mereka.<\/p>\n<p>TFT dan Ata Marie diketahui\u00a0hanya mengkaji pasokan kayu sampai dengan tahun 2020. Melihat jangkauan kajian mereka, ini sangat\u00a0mengkhawatirkan karena kajian hanya mencakup empat tahun pertama beroperasinya pabrik. Padahal\u00a0pabrik OKI akan memproduksi pulp selama berpuluh-puluh tahun ke depan. Sepengetahuan penulis\u00a0laporan ini (per 10 April 2016), kajian tersebut dan data yang mendasarinya belum diterbitkan untuk\u00a0dicermati oleh publik luas. Selain itu, pada waktu kesimpulan kajian itu diumumkan pada tahun 2014,\u00a0The Forest Trust maupun APP tidak menjelaskan secara terbuka bahwa pasokan kayu perusahaan hanya\u00a0dikaji sampai dengan tahun 2020.<\/p>\n<p>Untuk Laporan lengkap silakan Download <a href=\"https:\/\/www.dropbox.com\/s\/61sjey8g3ierave\/Kajian%20OKI%20Mill.pdf?dl=0\" target=\"_blank\">DISINI<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Laporan Terkait\u00a0komitmen \u201czero deforestation\u201d Asia Pulp and Paper Pada tanggal 5 Februari 2013, Asia Pulp &amp; Paper (APP) mengumumkan \u201cpenghentian pembukaan hutan\u00a0alam di seluruh rantai pasokannya di Indonesia.\u201d Janji \u201czero deforestasi\u201d perusahaan serta komitmen\u00a0keberlanjutan lainnya seolah menandai perubahan signifikan kebiasaan APP selama dua dasawarsa\u00a0sebelumnya. Sejak membangun dua pabrik pulp besar di Sumatera di pertengahan tahun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":737,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-736","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-berita"},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.8 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Akankah Asia Pulp &amp; Paper mengingkari komitmen \u201czero deforestation\u201d? | HaKI<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Akankah Asia Pulp &amp; Paper mengingkari komitmen \u201czero deforestation\u201d? | HaKI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Laporan Terkait\u00a0komitmen \u201czero deforestation\u201d Asia Pulp and Paper Pada tanggal 5 Februari 2013, Asia Pulp &amp; Paper (APP) mengumumkan \u201cpenghentian pembukaan hutan\u00a0alam di seluruh rantai pasokannya di Indonesia.\u201d Janji \u201czero deforestasi\u201d perusahaan serta komitmen\u00a0keberlanjutan lainnya seolah menandai perubahan signifikan kebiasaan APP selama dua dasawarsa\u00a0sebelumnya. Sejak membangun dua pabrik pulp besar di Sumatera di pertengahan tahun [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"HaKI\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2016-04-20T13:40:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/LAPORAN-ZERO-DEFORESTATION-APP.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"791\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"637\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"MIB\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"MIB\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/\"},\"author\":{\"name\":\"MIB\",\"@id\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/#\/schema\/person\/6ea8ad83c0708dedef300eb9feb99ea1\"},\"headline\":\"Akankah Asia Pulp &#038; Paper mengingkari komitmen \u201czero deforestation\u201d?\",\"datePublished\":\"2016-04-20T13:40:11+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/\"},\"wordCount\":846,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/LAPORAN-ZERO-DEFORESTATION-APP.png\",\"articleSection\":[\"Berita\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/\",\"url\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/\",\"name\":\"Akankah Asia Pulp & Paper mengingkari komitmen \u201czero deforestation\u201d? | HaKI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/LAPORAN-ZERO-DEFORESTATION-APP.png\",\"datePublished\":\"2016-04-20T13:40:11+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/#\/schema\/person\/6ea8ad83c0708dedef300eb9feb99ea1\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/LAPORAN-ZERO-DEFORESTATION-APP.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/LAPORAN-ZERO-DEFORESTATION-APP.png\",\"width\":791,\"height\":637},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Akankah Asia Pulp &#038; Paper mengingkari komitmen \u201czero deforestation\u201d?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/\",\"name\":\"HaKI\",\"description\":\"Perkumpulan Hutan Kita Institute\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/#\/schema\/person\/6ea8ad83c0708dedef300eb9feb99ea1\",\"name\":\"MIB\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/632e0466cfa43c50ff90a5ceafe64137ccf40c50f2a083d72c969aae078b8976?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/632e0466cfa43c50ff90a5ceafe64137ccf40c50f2a083d72c969aae078b8976?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"MIB\"},\"url\":\"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/author\/mib\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Akankah Asia Pulp & Paper mengingkari komitmen \u201czero deforestation\u201d? | HaKI","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Akankah Asia Pulp & Paper mengingkari komitmen \u201czero deforestation\u201d? | HaKI","og_description":"Laporan Terkait\u00a0komitmen \u201czero deforestation\u201d Asia Pulp and Paper Pada tanggal 5 Februari 2013, Asia Pulp &amp; Paper (APP) mengumumkan \u201cpenghentian pembukaan hutan\u00a0alam di seluruh rantai pasokannya di Indonesia.\u201d Janji \u201czero deforestasi\u201d perusahaan serta komitmen\u00a0keberlanjutan lainnya seolah menandai perubahan signifikan kebiasaan APP selama dua dasawarsa\u00a0sebelumnya. Sejak membangun dua pabrik pulp besar di Sumatera di pertengahan tahun [&hellip;]","og_url":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/","og_site_name":"HaKI","article_published_time":"2016-04-20T13:40:11+00:00","og_image":[{"width":791,"height":637,"url":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/LAPORAN-ZERO-DEFORESTATION-APP.png","type":"image\/png"}],"author":"MIB","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"MIB","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/"},"author":{"name":"MIB","@id":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/#\/schema\/person\/6ea8ad83c0708dedef300eb9feb99ea1"},"headline":"Akankah Asia Pulp &#038; Paper mengingkari komitmen \u201czero deforestation\u201d?","datePublished":"2016-04-20T13:40:11+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/"},"wordCount":846,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/LAPORAN-ZERO-DEFORESTATION-APP.png","articleSection":["Berita"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/","url":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/","name":"Akankah Asia Pulp & Paper mengingkari komitmen \u201czero deforestation\u201d? | HaKI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/LAPORAN-ZERO-DEFORESTATION-APP.png","datePublished":"2016-04-20T13:40:11+00:00","author":{"@id":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/#\/schema\/person\/6ea8ad83c0708dedef300eb9feb99ea1"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/#primaryimage","url":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/LAPORAN-ZERO-DEFORESTATION-APP.png","contentUrl":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/LAPORAN-ZERO-DEFORESTATION-APP.png","width":791,"height":637},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/akankah-asia-pulp-paper-mengingkari-komitmen-zero-deforestation\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Akankah Asia Pulp &#038; Paper mengingkari komitmen \u201czero deforestation\u201d?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/#website","url":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/","name":"HaKI","description":"Perkumpulan Hutan Kita Institute","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/#\/schema\/person\/6ea8ad83c0708dedef300eb9feb99ea1","name":"MIB","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/632e0466cfa43c50ff90a5ceafe64137ccf40c50f2a083d72c969aae078b8976?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/632e0466cfa43c50ff90a5ceafe64137ccf40c50f2a083d72c969aae078b8976?s=96&d=mm&r=g","caption":"MIB"},"url":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/author\/mib\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/736","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=736"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/736\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/737"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=736"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=736"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hutaninstitute.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=736"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}